Disiplin, Teknologi, Lingkungan dan Pembangunan


Manado – Untuk keberhasilan pembangunan, khususnya dalam rangka menghilangkan dampak interaksi yang negatif atau destruktif mutlak diperlukan dengan disiplin masyarakat. Berbicara mengenai disiplin, ternyata bahwa disiplin ini merupakan salah satu sumber daya manusiawi yang tersembunyi, tetapi sangat menentukan tercapainya suatu program pembangunan.

Walaupun demikian, dalam proses atau tahap pelaksanaannya sering juga suatu program pembangunan gagal atau kurang berhasil, karena rendahnya disiplin dari mereka yang terlibat dalam proses pembangunan.

Jika dilihat dari segi aspek pembangunan disiplin mengandung beberapa unsur, yakni antara lain: unsur patuh, unsur taat, unsur mental, unsur moral, unsur kejujuran, unsur keteraturan, dan unsur ketertiban.  Sedangkan dalam arti sempit, disiplin ini dapat diartikan dengan pematuhan secara ketat pada peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang sudah disetujui bersama. (strict to the rule).

Selanjutnya orientasi terhadap teknologi dan lingkungan dilihat dari peran serta pemerintah dan masyarakat dalam menyikapinya.  Ini dilihat dari segi teknologi yang tidak sejalan dengan kemajuan akal dan kebudayaan manusia, sehingga dalam penerapan disiplin ditengah-tengah masyarakat dan pemerintah secara ekstrem dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni Si “Kaya”, Si “Cukupan”, dan Si “Miskin”, artinya dari tingkatan tersebut dapat diukur kadar
disiplin yang melekat pada mereka.

Kenapa dikatakan begitu? Karena apabila seseorang hanya dapat memenuhi having-nya (standar kebutuhan untuk bertahan hidup), maka agak sulit untuk ia melaksanakan disiplinnya, karena tidak ada rasa memiliki atau loving-nya (kecintaan, solidaritas) dan tidak pula dikuatkan oleh keyakinan terhadap diri sendiri “being” (kepercayaan diri, kepribadian).  Lebih-lebih apabila tidak disertai dengan iman dan moral yang kuat.

Contoh kecil saja, tentang kerusakan lingkungan rusaknya lingkungan tersebut ternyata tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang drastis, melainkan dikarenakan kurangnya kontrol terhadap kemajuan dan hasil kemajuan teknologi, kurangnya kesadaran dari pelbagai lapisan sosial terhadap pemeliharaan lingkungan di desa sekitar maupun di kota pada umumnya.

Jadi, tidak mengherankan apabila pandangan-pandangan religius, etis, politis, dan ekonomis, mempengaruhi pemikiran tentang masalah-masalah kelainan iklim, pertambahan penduduk yang mencolok dan tidak diimbangi dengan hasil bumi, teknologi tepat guna dan teknologi maju yang belum merata, di samping ilmu pertanian, industri dan pertambangan yang menjadi tolok ukur sebuah pembangunan.

Oleh karena itu, walaupun disiplin ini dapat pula diperoleh dari pengaruh luar atau lingkungannya, kadar sifat “ajarnya” mungkin agak lebih rendah dari disiplin bawaan sejak kecil. Kemungkinan besar pula, orang-orang yang tidak mempunyai disiplin inilah yang biasanya banyak melanggar norma hukum, norma kehidupan keluarga, norma hidup bermasyakarat, sehingga dapat merusak aspek lingkungan hidup.
Sebaliknya, mereka yang patuh dan taat pada norma-norma kehidupan yang ada benar-benar dapat menjadi jaminan untuk dipercayai menjabat suatu tugas dan jabatan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Ini berarti bahwa disiplin merupakan sumber daya manusiawi yang sangat penting dalam rangka melestarikan atau mengawetkan, bahkan ikut berperan dalam mengembangkan wilayah-wilayah pembangunan baik ditingkat pedesaan, kabupatan/kota maupun ke tingkat provinsi. (D)

Penulis : Dani , Alumni Jurusan Komunikasi FISIP Unsrat

Satu Tanggapan

  1. pas… ternyata kote masi banya orang yang perhatian tentang pembangunan…… mar bagi kita sebagai orang manado tahun ini masih belum bisa dikatakan tahun disiplin… Kenapa? karena torang pe pembuat kebijakan bulum disiplin…. noh apalagi depe masyarakat so lebe kacauuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: