BERKUBANG LUMPUR DI BAWAH KHATULISTIWA (Part 2)


Pelabuhan Feri Pagimana

Perjalanan Pagimana-Luwuk

TKG Suluttenggo – “Boot…boot….,” suara storm kapal Fery memasuki Pagimana. “Tunggu….tunggu dulu,” ujarku kepada rekanku. “Kita tunggu saja, biarkan penumpang lain turun dulu,” kataku lagi yang diiyakan rekan se-tim Kaki Gatal.  Sambil menunggu dan menatap sekeliling pelabuhan, mata kami terus tertuju ke deretan rumah makan di pelabuhan.

Sembari berpandangan mata dan tertawa kami serentak berteriak, “lapar….!,” dan tancap gas menuruni tangga kapal dan singgah di sebuah warung makan milik keluarga dari suku Gorontalo yang memutar musik lagu-lagu dari Manado.  “pigi jo deng dia…pigi jo deng dia…pigi jo, sayang!,” begitulah lirik lagu itu.

Menu yang kami santap kali ini, sate, ya…sate ayam plus saus sambal kacang yang kami lahap dan ludes dari piring masuk ke perut kami. “wouw..kenyang, sudah!.” Dengan perut yang sudah terisi, badan kami tegakkan dan sandarkan di sandaran kursi, berbagi rokok dan menyulutnya serta sekedar berbasa-basi.

“Nak..dari Manado ya…?” tanya pemilik warung nasi karena mendengar logat bicara kami.  “ya bu…ibu dari Manado juga, ya..?,” balas kami karena melihat kulitnya yang putih.  “Tidak nak…saya dari Gorontalo, tapi pernah tinggal lama di Manado.  Pekerjaan saya begini juga, ya..jualan,” ungkapnya.

Singkat cerita, sang ibu dan bapak bercerita tentang masalah hidup perantauannya yang telah melanglang buana dari Manado, Gorontalo, Poso dan beberapa tempat lainnya hingga saat ini sampai di Pagimana.  Teringat beberapa tahun sebelumnya, dia dan suaminya telah menjalankan usaha di Poso Sulawesi Tengah namun akibat kerusuhan pada waktu itu, terpaksa kucar-kacir menyelamatkan hidup, dan memulai mencari lahan pencarian yang baru.  Ibu menyimpulkan bahwa perkelahian hanya mendatangkan kerugian dan tiada untungya.

Tiba-tiba terdengar,” Luwuk..luwuk…,” teriak supir taksi, menghentikan pembicaraan kami, berapa ongkos ke Luwuk? tanya kami.  “Rp 25.000 sampai terminal,” pungkasnya.  tanpa tawar menawar “deal”, kami bergegas menuju taksi yang ditunjuk dan perjalananpun dimulai.  “Pagimana-Luwuk,” apa gerangan yang terjadi ? atau yang kami dapati ?,” pikir kami.

Beberapa perkampungan kami lewati yang terbuat dari pondasi batu dan semen tapi dindingnya terbuat dari papan, “Kayu Hitam” ingatku tentang cerita teman Tim Kaki Gatal lainnya yang sudah berada di Luwuk sebelumnya.  Tapi angan itu, berlalu seiring dengan laju kendaraan mulai menapaki area pegunungan.

“Bangun, bangun… bro,” ujarku ke rekan Tim saat kendaraan yang kami tumpangi melintasi area pegunungan yang memancarkan keindahan pantai di Pagimana.  Laut biru yang tenang diapit dua pegunungan yang tinggi, sungguh pemandangan yang sulit untuk dilupakan.

Sebelah kiri kami,  disuguhi pemandangan perairan laut, di sebelah kanan terlihat pemandangan tebing batu.  Seketika mataku tertuju di dinding batu itu, memperhatikan jenis bebatuannya, “inikah jenis bebatuan yang mengandung platinum (emas putih untuk bahasa lokal) itu,” gumamku dan tertidur, terlelap bersama anganku, hingga tiba di terminal kota Luwuk, kota air, kota dengan bebatuan kapur tempat transit semalam, menuju Toili penuh dengan emas-emas yang akan kami cari. (TKG) – (to be continued…Part 3  “Manusia-Manusia Lumpur“)-

2 Tanggapan

  1. ralat pagimana bukan kaimana..🙂

  2. hahahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: