Sekilas Dimensi-Dimensi Kemiskinan Masyarakat


Ilustrasi Potret Kemiskinan

Opini Suluttenggo – Tanpa disadari, kita seringkali terjebak dalam satu cara pandang dalam melihat kemiskinan sebagai sebuah “kondisi”, dan bukannya “konsekuensi”.  Artinya, pandangan mengenai”kemiskinan” sebagai problem sosial disamakan dengan keadaan tertentu “si miskin” pada satu saat.

Cara pandang itu memang memudahkan untuk dapat mengukur kemiskinan dari indikator-indikator yang bersifat generik, seperti kondisi tempat tinggal, jenis dan jumlah asupan gizi, tingkat pendapatan dan kepemilikan aset, dan lainnya.  Kemiskinan kemudian dilihat sebagai “atribut negatif” dari ukuran-ukuran ini dalam suatu gradasi.

Demikianlah, kondisi kemiskinan lantas dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan seperti, keluarga Pra Sejahtera, Sejahtera I, Sejahtera II dan sejahtera III plus ; yakni kategori-kategori yang biasa dipakai pemerintah untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan keluarga.

Kondisi kemiskinan, baik di level rumah tangga ataupun komunitas, sebenarnya memiliki perjalanan sejarah dan dinamika yang berbeda-beda dalam hal proses pembentukan, durabilitas, dan bahkan juga reproduksinya.

Status dan kondisi kemiskinan boleh saja serupa pada berbagai komunitas adat.  Namun, tanpa memahami proses pembentukannya dan mekanisme-mekanisme sosial yang membuat ketimpangan dan kemiskinan itu terus bertahan dan berlanjut (bahkan dicipta kembali), maka yang ditangkap sebenarnya hanyalah “hilir dan “muara” kemiskinan, sementara “hulu” yang menimbulkan kondisi kemiskinan itu dan “aliran-aliran” yang menjadi mekanisme-mekanisme produksi dan reproduksinya tidak akan dipahami dengan baik.

Dalam hal demikian, maka penentuan level-level kesejahteraan ataupun introduksi program-program pengentasan kemiskinan yang konvensional dapat dipastikan hanya akan menyasar pada “symptom permasalahan” belaka.  Problem kemiskinan pada akarnya tidak tertangani secara baik (untuk tidak mengatakan dihindari sama sekali)

Secara praktis, konstruksi kemiskinan semacam di atas hanya akan menggamabarkan pada”kebijakan ujung pipa” (Winoto, 2008) dalam program-program pengentasan kemiskinan. Kebijakan ini pasti tidak akan mampu menghentikan proses reproduksi dan pelipatgandaan kemiskinan oleh kebijakan pembangunan yang berlangsung selama ini.

Sebagai ilustrasi, satu keluarga yang karena satu bantuan pemerintah dapat naik ke satu jenjang peringkat kesejahteraan yang lebih tinggi, tidak ada jaminan sama sekali bahwa segera setelah itu, ia tidak jatuh ke jenjang semula, atau bahkan lebih bawah lagi-selama kondisi dan lingkungan yang menyebabkan kemiskinan tidak kunjung diatasi.

Apa yang dialami desa-desa transmigran di Sulawesi Tenggara dan Sulawes Tengah, bisa menjadi contoh menarik di sini.  Penduduk miskin dari Bali dan Lombok yag ditransmigrasikan ke daerah ini, telah sukses meningkatkan taraf hidup mereka menjadi lebih sejahtera dibandingkan di kampung asal.

Akan tetapi, pada saat ini beberapa dari mereka terpaksa terelokasi ke tempat-tempat lain karena desa-desa mereka termasuk dalam kuasa pertambangan, yang entah bagaimana telah bertumpang tindih dengan areal transmigrasi. (C)

Sumber : Prolog Memahami Dimensi-Dimensi Kemiskinan Masyarakat Adat, Moh Shohibuddin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: