Pasar Kakas di Era 80-an


Jualan MInyak Goreng di Pasar Kakas (photo : buchholt)

Suluttenggo – Menurut laporan Ulrich Maiand Helmut Buchhlot dalam bukunya Peasant Pedlars and Professional Traders mendapatkan laporan lisan dari tua-tua kampung bahwa pasar Kakas telah ada sejak abad kesembilan belas, meskipun lebih kecil dari saat ini.

Hingga pada tahun 1969, pasar Kakas diperbesar yang dulunya warung dan kios-kios terbuat dari bahan bambu maka dirubah dengan sebuah konstruksi yang solid dari batu, kayu, dan seng, terutama di toko-toko dan warung.

Suasana di pasar Kakas pada saat itu terlihat banyak pedagang yang menjual bahan makanan lokal.  Paling sering di pintu masuk terlihat juga bahwa beberapa pedagang mencoba mencegat para pembeli.   Sementara untuk peraturan jam buka, tidak ada.  Yang pasti toko-toko selalu dibuka pada pukul 6 pagi dan tutup pukul 6 sore.  Tetapi tidak tertutup kemungkinan akan buka sampai jam 10 malam jika ada pelanggan yang sangat membutuhkan produk dagangan pada kondisi-kondisi tertentu.

Para Pedagan Perempuan di Pasar Kakas (photo:buchholt)

Bahan-bahan (produk) yang diperdagangkan pada waktu itu terutama nasi (beras) dan ikan yang merupakan makanan pokok orang Minahasa. Untuk ikan diperoleh dari ikan air tawar yang diambil dari kolam atau dari danau Tondano, di mana air masih relatif bersih pada saat itu.

Di Kakas, di ujung selatan danau, sekitar 200 perahu bermotor selalu bersiap untuk mensuplai ikan air tawar.  Walaupun demikian, sangat sedikit dari pemilik perahu menggunakan penuh waktunya sebagai nelayan untuk memancing ikan di danau.  Profesi ini dilakukan terutama untuk menambah penghasilan dari sektor pertanian yang sudah digeluti sebelumnya.

Setiap pagi hari, para tibo-tibo biasanya mengikuti nelayan ke danau untuk mengumpulkan hasil tangkapan mereka, yang selanjutnya melakukan transaksi di danau.  Beberapa tibo-tibo bahkan menggunakan perahu motor untuk menangkap ikan sendiri untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak dan lebih baik.

Beberapa nelayan di danau Tondano telah menjalin relasi yang baik dengan para tibo-tibo, di mana hasil tangkapan mereka biasanya dijual ke salah satu tibo-tibo yang sudah menjadi langganan mereka.

Tetapi tidak tertutup kemungkinan bila harga yang ditawarkan oleh tibo-tibo terlalu rendah, maka istri nelayan akan membawa sendiri hasil tangkapan mereka ke pasar dan menjualnya sendiri.

Sedangkan untuk ikan laut biasanya dibawa oleh tibo-tibo dari Bitung atau belang seperti, ikan cakalang atau tuna. (C)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: